The Founder: Sudono Salim, Kisah Panjang Jadi Raja Mi di Indonesia (Part 1) 
The Founder
Fahmi Abidin
Senin, 15 Oktober 2018 05:30 WIB
Sosok dibalik suksesnya Indofood di Indonesia tidak lepas dari kepiawaian Sudono Salim yang merupakan founder dalam melihat potensi pasar mi di Indonesia.
Sudono Salim

IDXCHANNEL– “Indomieee…. Selerakuuuu…”, demikian sepenggal lirik jingle iklan televisi yang mengiringi kesuksesan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk merajai industri Fast Moving Consumer Good di segmen mi instan lewat brand Indomie. Sosok dibalik suksesnya Indofood di Indonesia tidak lepas dari kepiawaian Sudono Salim yang merupakan founder dalam melihat potensi pasar mi di Indonesia.

Indofood tidak hanya memproduksi Indomie. Banyak produk tenar lainnya yang muncul seperti Pop Mie, Chitato, Indomilk dan masih banyak lagi.

Kesuksesan Indofood berasal dari pendirinya yakni Sudono Salim yang telah wafat pada 10 Juni 2012. Lewat keuletannya menangkap peluang pasar dan mengembangkan usaha, dirinya terbilang sukses sebagai pendiri dari salah satu grup usaha terbesar dalam sejarah Indonesia.

Seperti dikutip dari Okezone, Sudono Salim mendirikan Indofood pada 1990 yang merupakan produsen berbagai jenis makanan dan minuman yang bermarkas di Jakarta, Indonesia. pada 1982, Liem menciptakan produk mie instan dengan merk Indomie. Selain Indomie, Grup Salim juga memproduksi berbagai jenis makanan lainnya.

Tak hanya besar di Indonesia, Sudono Salim pun berhasil membawa produk Indofood hingga ke mancanegara menuju pasar Eropa dan Afrika. Seiring waktu, Indofood juga berhasil mendirikan pabrik di Afrika untuk memperluas pasar mi instan.

Dimulai dari titik nol, Salim tidak serta merta meraih kesuksesan dalam perjalanan usahanya. Sejak pindah dari China (Tiongkok) ke Indonesia, Salim awalnya mencoba usaha perdagangan tembakau dan cengkeh di Kudus, Jawa Tengah di usia 25 tahun. Setelah sempat berjaya, pada 1942 bisnisnya lantas bangkrut lantaran kedatangan Jepang yang menghentikan semua kegiatan ekonomi masyarakat.

Namun, setelah Jepang hengkang, Salim mencoba peruntungan lain dengan berpindah ke Jakarta dan berbisnis penyediaan logistik untuk tentara. Sukses dalam bisnis tersebut, Salim lantas mendirikan Central Bank Asia pada 1957 bersama orang kepercayaannya, Mochtar Riady.

Tidak hanya itu, Salim juga berhasil membangun sebuah perusahaan tepung terigu terbesar di Indonesia yaitu, PT Bogasari. Singkat cerita, perusahaan ini berhasil memonopoli pasar terigu di Indonesia dengan menyuplai dua per tiga dari seluruh kebutuhan terigu nasional.

Baca Juga