Jeff “Amazon” Bezos, Bermula di Garasi Kini Orang Terkaya di Dunia
The Founder
Fahmi Abidin
Rabu, 12 Juni 2019 15:45 WIB
Sejarah panjang Amazon hingga bisa sukses tidak lepas dari sang pendiri yakni Jeff Bezos yang mengawali perjalanan perusahaan dari sebuah garasi rumah.
Jeff “Amazon” Bezos, Bermula di Garasi Kini Orang Terkaya di Dunia. (Foto; Ist)

IDXChannel – Kenal Amazon.com? Tentunya perusahaan e-commerce terbesar di dunia ini memiliki sejarah panjang hingga bisa sukses. Hal itu tidak lepas dari sang pendiri yakni Jeff Bezos yang mengawali perjalanan perusahaan dari sebuah garasi rumah.

Bernama lengkap Jeffrey Preston Jorgensen, lahir di Albuquerque, New Mexico, pada 12 Januari 1964 dari pasangan Ted Jorgensen dan Jacklyn Gise Jorgensen. Ia dilahirkan ketika ibunya masih berusia belasan tahun. Namun, pernikahan orangtuanya hanya bertahan setahun lebih.

Beberapa tahun kemudian, Jacklyn menikahi imigran asal Kuba bernama Miguel "Mike" Bezos. Seperti ibunya, nama belakang Jeffrey pun berganti jadi Bezos.

Bezos kecil rupanya sudah menunjukkan minatnya di bidang ilmu sains dan teknik. Ia pernah mengutak-utik alarm listrik supaya sang adik tidak masuk ke kamarnya. Ia juga pernah ‘menyulap’ garasi menjadi laboratorium untuk eksperimen ilmiah.

Beranjak remaja, keluarga Bezos pindah ke Miami. Jeff bersekolah di SMA Miami Palmetto sambil bekerja di restoran cepat saji McDonald's. Meski begitu, ia berkesempatan mengikuti Program Pelatihan Sains Siswa di Universitas Florida, meraih penghargaan Silver Knight pada 1982 serta Beasiswa Merit Nasional. Selepas SMA, ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas Princeton. Pada 1986, ia lulus sebagai sarjana sain bidang ilmu komputer dan teknik listrik dengan predikat summa cum laude.

Setelah malang melintang bekerja di Wall Street dan bersinggungan dengan jaringan komputer, ia akhirnya mengundurkan diri dan pindah ke Seatle untuk fokus merintis usahanya sendiri. Dibantu beberapa kawan, Jeff mendirikan Amazon.com pada 5 Juli 1994 di garasi rumahnya.

Nama Amazon sendiri diambil dari sungai Amazon di Amerika Selatan. Perusahaan e-commerce itu dibangun dengan modal USD 300 ribu atau sekitar Rp 4,2 miliar dari orangtuanya.

Di masa itu, e-commerce belum berkembang hingga membuat banyak orang pesimistis dengan Amazon. Jeff sendiri bahkan memperingatkan calon investornya bahwa peluang perusahaan ini kolaps dan bangkrut mencapai 70%. Sebaliknya, kesuksesan Amazon bagaikan meteor. Tanpa promosi yang memadai,dalam kurun waktu 30 hari, Amazon.com mampu menjual buku secara online di seluruh Amerika dan 45 negara lainnya. Menginjak bulan kedua, penjualan telah mencapai 20 ribu dolar per minggu.

Tiga tahun berselang, Amazon memasuki babak baru dengan mencatatkan sahamnya di lantai bursa. Ketika itu, banyak analis yang ragu dan pesimis akan daya saing Amazon, mengingat saat itu mulai banyak kompetitor. Namun, Amazon akhirnya menutup pesimisme analis tersebut dengan mengungguli pendapatan para kompetitornya dan memimpin persaingan bisnis e-commerce.

Amazon terus menambah inovasi untuk diversifikasi usaha sampai menjadi Amazon yang kita kenal saat ini. Tahun 1998 Amazon mulai menjual CD dan kaset video, serta pakaian, elektronik, mainan, dan produk lain hasil kerja sama dengan peritel besar.

Seiring kesuksesan Amazon, Jeff pun memutar uangnya dan mendirikan perusahaan lain seperti Kindle serta Blue Origin. Ia juga membeli Washington Post pada 2013 dan kini mulai merambah investasi di bidang kesehatan. Berkat Amazon, Jeff Bezos kini menyandang titel “Orang Terkaya di Dunia” versi Forbes tahun 2019. (*)

 

Baca Juga