Berawal Jaga Toko, Mochtar Riady Sukses Dirikan Lippo Group
The Founder
Fahmi Abidin
Selasa, 30 Oktober 2018 23:00 WIB
rang dibelakang suksesnya ratusan brand tersebut adalah Mochtar Riady, pendiri Lippo Group itu ternyata bermula dari penjaga toko.
Mochtar Riady

IDXChannel – Apakah Anda kenal dengan First Media, Berita Satu, Matahari Departement Store, Hypermart, Foodmart, hingga ratusan mal di seluruh Indonesia dengan nama awalan atau akhiran Lippo Mall? Orang dibelakang suksesnya ratusan brand tersebut adalah Mochtar Riady, pendiri Lippo Group yang bercita-cita ingin menjadi banker dan mengawali bisnisnya justru dari sektor keuangan.

Melirik sejenak dari impiannya menjadi banker, profesi tersebut sejatinya dianggap sang ayah sebagai profesi orang-orang kaya dan tidak sesuai dengan kondisi keluarganya saat itu. Namun Riady muda tidak mau menyerah. Ia tetap bersikeras untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang bankir.

Bahkan meski tak memiliki pengetahuan dan kenalan di bidang perbankan, Dirinya tetap nekat pergi ke Jakarta pada 1954 untuk mewujudkan impiannya tersebut. Hingga akhirnya berhasil dan menjadi seorang Direktur di sebuah bank.

Berpijak dari cita-cita awal Mochtar yang ingin menjadi bankir sejak masa sekolah dasar lantaran setiap hari melewati kemegahan kantor bank milik Belanda dengan pegawai perlente dan dandanan necis. Beruntung, mimpinya kesampaian juga.

Kiprahnya dimulai dari bankir sebagai presiden direktur Bank Kemakmuran pada 1959-1960, Bank Buana 1963, Panin Bank 1971, hingga penentu arah BCA sejak 1975-1991 di bawah Liem Sioe Liong alias Sudono Salim, salah satu konglomerat terdekat keluarga Soeharto

Bersamaan dengan kariernya yang terus menanjak, Mochtar juga rajin membeli saham-saham bank dan punya bisnis sendiri dengan bendera Lippo Bank, bagian usaha dari Lippo Group.

Namun menjadi seorang Direktur bank, Mochtar Riady bukan tanpa masalah. Karena pengetahuannya yang kurang baik, Ia kemudian merasa sangat kesulitan untuk membaca dan memahami balance sheet. Meski mendapati kesulitan, dirinya tak mau menyerah. Sepanjang hari ia mencoba belajar dan memahami balance sheet tersebut.

Selain belajar di tempat kerjanya, Riady juga menyewa guru privat untuk bisa memahami dunia perbankan. Selama sebulan penuh Riady belajar dengan sangat keras hingga pada akhirnya Riady pun mampu memahami proses pembukuan dan juga akuntansi.

Singkat cerita, sejak meninggalkan BCA pada 1991, Mochtar Riady lantas berkonsentrasi ke bisnis lahan dan property (real estate) di bawah Lippo Group yang didirikannya. Bisnisnya terus melaju ke bidang pendidikan, rumah sakit, supermarket, supermal, telekomunikasi dan lainnya.

Tonggak awal bisnis propertinya pada 1990 saat Lippo Bank mengambil alih tiga bidang lahan seluas 70 km persegi, yang menjadi barang sitaan kredit macet nasabah Lippo Bank. Mencakup dua bidang lahan di 45 km persegi di timur Jakarta dan sebidang lahan di 25 km persegi di barat Jakarta. Semua lahan ini gersang dan tandus. 

Mochtar Riady disebut serius di bisnis lahan dan property, Namun, Mochtar bukan tipe orang yang tergesa-gesa. Beberapa lahannya di Karawaci seluas 400 ha disisakan untuk masa depan. Lahan Cikarang masih tersisa hingga 700 ha sebagai celengan. Ia lalu pembelian lahan tandus di Cikarang sejak 1990-an.

Belakangan kawasan Cikarang itu kini jadi perbincangan hangat sejak awal Mei lalu sang putra mahkota Lippo, James Riady, mengumumkan sebuah megaproyek senilai Rp278 triliun di lahan 500 ha yang disebut “Kota Baru Meikarta.".

Usahanya terus berkembang di berbagai sektor, Anda pun mungkin pernah mengonsumsi salah satu produk dari Lippo Group. Dari ratusan bisnis inilah Mochtar Riady mampu menjadi orang terkaya di Indonesia dan menduduki peringkat ke-38 dengan total kekayaan US$ 650 juta pada tahun 2011.

Baca Juga