Ini Strategi Menkeu Jaga Stabilitas Rupiah di 2020
Market News
Fahmi Abidin
Rabu, 12 Juni 2019 10:15 WIB
Pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 mengasumsikan nilai tukar rupiah di level Rp14.000-Rp15.000 per dolar AS.
Ini Strategi Menkeu Jaga Stabilitas Rupiah di 2020. (Foto: Ist)

IDXChannel – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat paripurna di gedung DPR menyebutkan bahwa Pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 mengasumsikan nilai tukar rupiah di level Rp14.000-Rp15.000 per dolar AS.

Asumsi yang disebutkan oleh Pemerintah tersebut telah mempertimbangkan kondisi eksternal dan internal pada tahun depan. Dikatakan Sri Mulyani Indrawati, untuk menjaga agar rupiah sesuai dengan asumsi tersebut, pemerintah harus mengantisipasi sejumlah faktor dari sisi eksternal. Misalnya pelemahan ekonomi dan perdagangan global, perang dagang AS dan China, arah kebijakan moneter AS, proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa, dan fluktuasi harga komoditas.

"Hal-hal tersebut mempengaruhi besarnya arus valuta asing yang masuk dan keluar Indonesia seperti yang terjadi pada tahun 2018, yang pada gilirannya berimbas pada fluktuasi nilai tukar rupiah," ujarnya saat Rapat Paripurna di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (11/6). 

Neraca pembayaran dan neraca transaksi berjalan, ungkap Sri Mulyani, merupakan refleksi dari perekonomian Indonesia dengan dunia internasional. Pasalnya, perbaikan kinerja ekspor barang, pendalaman sektor jasa keuangan, dan perbaikan iklim investasi akan memengaruhi posisi neraca transaksi modal dan finansial.

Oleh karenanya, ke depan diperlukan perbaikan struktural untuk memperkuat daya saing ekonomi domestik, penguatan sektor riil dan pendalaman sektor industri, perbaikan infrastruktur, penyederhanaan aturan atau deregulasi, serta insentif-insentif kebijakan ditujukan untuk menciptakan efisiensi, produktivitas dan inovasi di sektor riil.

"Produk Indonesia harus memiliki daya saing baik untuk ekspor maupun di pasar domestik. Perbaikan iklim investasi dan penyederhanaan regulasi juga akan mendorong arus investasi masuk ke Indonesia," ucapnya.

Kemudian, pengembangan sektor pariwisata dengan sepuluh destinasi wisata di luar Bali diharapkan akan semakin menarik jumlah wisatawan luar negeri dan mencegah keluarnya devisa karena wisatawan Indonesia ke luar negeri.

"Dengan langkah-langkah tersebut arus modal dan perdagangan barang dan jasa akan dapat diseimbangkan atau bahkan menjadi surplus sehingga mendorong akumulasi cadangan devisa nasional dan juga berdampak pada perbaikan nilai tukar," ujarnya.

Pendalaman pasar pun akan terus dilakukan pemerintah bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Tak hanya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan sektor riil tetapi juga untuk menjamin likuiditas dan stabilitas pasar keuangan dalam negeri.

Pemerintah juga siapkan strategi kerja sama internasional dan bilateral yang dapat membantu stabilisasi nilai tukar. Format-format kerja sama seperti Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM), perjanjian bilateral currency swap arrangement merupakan strategi yang disiagakan sebagai buffer penguatan cadangan devisa bila diperlukan.

"Nilai tukar rupiah yang stabil namun fleksibel merupakan instrumen kebijakan makro yang penting untuk menjaga ekonomi Indonesia dari shock dan tekanan. Karena itu, nilai tukar harus dijaga agar dapat memperkuat daya saing dan ketahanan ekonomi secara konsisten," tutur dia. (*)

Baca Juga